Senin, 02 Maret 2015

Pengingat dikala lupa


Itulah sifat buruk manusia, yaitu kefasikan. Sesungguhnya didalam hati mereka meyakini bahwa ada ‘kekuatan’ lain yang menguasai hidup mereka. Namun karena kesombongan dan keangkuhannya ia tidak mau mengakuinya. Dan pada saat ia tidak sanggup dan tidak berdaya barulah ia memohon pertolongan kepada ‘kekuatan’ itu yang segera akan ditinggalkannya begitu ia terlepas dari kesusahan. 

Namun demikian sesungguhnya disamping sifat jelek diatas Allah SWT membekali pula manusia dengan sifat baik, yaitu ketakwaan. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(QS.As-Syams(91):8-10). 

Dan hanya hatilah yang dapat mengatur kedua sifat yang berlawanan ini, yaitu hati yang kaya. 

”Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa”(HR Bukhari-Muslim). 

Hati yang kaya adalah hati yang lapang, hati yang mudah memafkan segala kesalahan, hati yang tidak dengki ketika orang lain dalam kesenangan, hati yang tidak suka berbohong, hati yang tidak gemar berburuk sangka, hati yang dapat menjaga kesabaran ketika musibah menghampiri. 

Mereka yang memiliki hati yang seperti ini hidupnya akan tenang dan dengan demikian memudahkan masuknya iman dan hidayah. 

Rasulullah bersabda : “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.” 

Namun untuk mengetahui benar tidaknya keimanan seseorang, Allah SWT berkehendak untuk menguji keimanan itu terlebih dahulu, apakah ia berdusta atau tidak. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS.Al-Ankabuut(29):2-3). 

Sebaliknya hati yang sempit adalah hati yang sombong, hati yang tidak peka terhadap lingkungan, hati yang buta. Hati yang seperti ini tidak sanggup melihat peringatan yang diberikan-Nya. Dan Allahpun berlepas diri dari orang-orang seperti ini.(nauzubillah)

 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” ..(QS.Al-An’am(6):44) 

Sedangkan orang-orang yang memiliki kekayaan hati, surgalah tempat mereka kembali. 

“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al-Fajr(89):27-30).


Walahu’alam.

Tidak ada komentar:

Senin, 02 Maret 2015

Pengingat dikala lupa

Diposting oleh Devi Suhaila di 04.35

Itulah sifat buruk manusia, yaitu kefasikan. Sesungguhnya didalam hati mereka meyakini bahwa ada ‘kekuatan’ lain yang menguasai hidup mereka. Namun karena kesombongan dan keangkuhannya ia tidak mau mengakuinya. Dan pada saat ia tidak sanggup dan tidak berdaya barulah ia memohon pertolongan kepada ‘kekuatan’ itu yang segera akan ditinggalkannya begitu ia terlepas dari kesusahan. 

Namun demikian sesungguhnya disamping sifat jelek diatas Allah SWT membekali pula manusia dengan sifat baik, yaitu ketakwaan. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(QS.As-Syams(91):8-10). 

Dan hanya hatilah yang dapat mengatur kedua sifat yang berlawanan ini, yaitu hati yang kaya. 

”Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa”(HR Bukhari-Muslim). 

Hati yang kaya adalah hati yang lapang, hati yang mudah memafkan segala kesalahan, hati yang tidak dengki ketika orang lain dalam kesenangan, hati yang tidak suka berbohong, hati yang tidak gemar berburuk sangka, hati yang dapat menjaga kesabaran ketika musibah menghampiri. 

Mereka yang memiliki hati yang seperti ini hidupnya akan tenang dan dengan demikian memudahkan masuknya iman dan hidayah. 

Rasulullah bersabda : “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.” 

Namun untuk mengetahui benar tidaknya keimanan seseorang, Allah SWT berkehendak untuk menguji keimanan itu terlebih dahulu, apakah ia berdusta atau tidak. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS.Al-Ankabuut(29):2-3). 

Sebaliknya hati yang sempit adalah hati yang sombong, hati yang tidak peka terhadap lingkungan, hati yang buta. Hati yang seperti ini tidak sanggup melihat peringatan yang diberikan-Nya. Dan Allahpun berlepas diri dari orang-orang seperti ini.(nauzubillah)

 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” ..(QS.Al-An’am(6):44) 

Sedangkan orang-orang yang memiliki kekayaan hati, surgalah tempat mereka kembali. 

“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al-Fajr(89):27-30).


Walahu’alam.

0 komentar on "Pengingat dikala lupa"