Sabtu, 15 April 2017

Sayangnya ALLah

Bismillahirrahmanirrahim

Dia bukanlah anak pembantah, namun agak keras kepala, dan ingin menang sendiri. Begitulah orangtuanya menilainya.
Sungguh pendiam dan pemalu anaknya. Tak banyak yang tahu apa mimpinya.
Kala itu setelah lulus SMA, Ia belum juga berjilbab kalau keluar rumah dimalam hari. Namun suatu hari ia katakan keteman kosnya.  “besok malem kalau keluar kos, aku mau pakai jilbab”.
Hidayah Allah tidak sampai situ saja. Suatu malam dia bermimpi melihat awan bertuliskan  lafahz Allah. Didalam mimpi itu dia bertanya apa artinya? Seseorang yang dia kenal menjawabnya “artinya kalau ada adzan langsung sholat, begitu tegasnya”. Dia bangun, lalu menelepon orangtuanya dan menangis ketakutan.
Sejak itu dia berusaha untuk sholat awal waktu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dia ingin sekali melanjutkan pendidikan ditempat yang “keren menurutnya”, tapi dia tahu kemampuannya, dia ga bisa memaksa Allah. Jadi dia mengganti doa, yang biasanya “Yaa Rabb luluskan hamba menjadi Yaa Allah beri hamba tempat untuk melanjutkan pendidikan yang mendekatkan hamba kepadaMu”
Ku kenal dari dirinya waktu itu adalah dia mendekat ke Allah karena takut. Dia merasa takut jauh dari Allah, sebab dia yakin kesusahan akan menghampirinya kalau dia berani jauh dari Allah.

Alhamdullilah do’anya terkabul. Dia bahagia, dia merasa Allah sayang dengan dengannya. Namun Qadarullah, karena karakternya yang pendiam,dia tidak langsung ikut organisasi yang menambah kedekatannya pada RabbNya. Ditahun pertama pendidikan, kedekatannya dengan Allah hanya rutinitas. Pernah suatu hari dadanya begitu sempit, merasa lemah. Mengaji menurutnya bukan obat padahal seketika itu dibuka olehnya AlQuran dan membaca tafsirnya yang bertuliskan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu bersedih hati karena kamu orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.
Tahun kedua pendidikan, dia mempunyai logika dalam mencapai sesuatu katakanlah nilai yang baik saa ujian. yaitu persiapan, usaha dulu yang utama baru berdoa supaya semua lancar tanpa kendala. Padahal Allah bukanlah mitra dagang. Artinya kalau kita baik, Allah memberi yang kita pinta. Ilmu Allah amat luas.
Ditahun terakhir pendidikannya, ini tahun berwarna menurutnya. Dia sekarang telah ikhlas untuk berbaur dengan teman-temannya. Satu logika yang dia paham sekarang bahwa Allah tetap membantu semua hambanya, maksudnya bukan hanya pada mereka yang memiliki persiapan yang matang. Tapi juga pada mereka yang memiliki persiapan sedikit.
Allah sayang banget sama aku, pikirnya. Padahal Allah sayang sayang kepada semua hambaNya.
Waktu terus berjalan. Hari yang dilalui masih panjang pikirnya. Namun segera dia berfikir “aku sendiri tidak bisa menjamin bahwa aku bisa hidup besok”
Astagfirullah, dia mohon ampun. Segera dia membuat daftar daftar apa yang harus dilakukan hari.


-sekian-

Tidak ada komentar:

Sabtu, 15 April 2017

Sayangnya ALLah

Diposting oleh Devi Suhaila di 06.00
Bismillahirrahmanirrahim

Dia bukanlah anak pembantah, namun agak keras kepala, dan ingin menang sendiri. Begitulah orangtuanya menilainya.
Sungguh pendiam dan pemalu anaknya. Tak banyak yang tahu apa mimpinya.
Kala itu setelah lulus SMA, Ia belum juga berjilbab kalau keluar rumah dimalam hari. Namun suatu hari ia katakan keteman kosnya.  “besok malem kalau keluar kos, aku mau pakai jilbab”.
Hidayah Allah tidak sampai situ saja. Suatu malam dia bermimpi melihat awan bertuliskan  lafahz Allah. Didalam mimpi itu dia bertanya apa artinya? Seseorang yang dia kenal menjawabnya “artinya kalau ada adzan langsung sholat, begitu tegasnya”. Dia bangun, lalu menelepon orangtuanya dan menangis ketakutan.
Sejak itu dia berusaha untuk sholat awal waktu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dia ingin sekali melanjutkan pendidikan ditempat yang “keren menurutnya”, tapi dia tahu kemampuannya, dia ga bisa memaksa Allah. Jadi dia mengganti doa, yang biasanya “Yaa Rabb luluskan hamba menjadi Yaa Allah beri hamba tempat untuk melanjutkan pendidikan yang mendekatkan hamba kepadaMu”
Ku kenal dari dirinya waktu itu adalah dia mendekat ke Allah karena takut. Dia merasa takut jauh dari Allah, sebab dia yakin kesusahan akan menghampirinya kalau dia berani jauh dari Allah.

Alhamdullilah do’anya terkabul. Dia bahagia, dia merasa Allah sayang dengan dengannya. Namun Qadarullah, karena karakternya yang pendiam,dia tidak langsung ikut organisasi yang menambah kedekatannya pada RabbNya. Ditahun pertama pendidikan, kedekatannya dengan Allah hanya rutinitas. Pernah suatu hari dadanya begitu sempit, merasa lemah. Mengaji menurutnya bukan obat padahal seketika itu dibuka olehnya AlQuran dan membaca tafsirnya yang bertuliskan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu bersedih hati karena kamu orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.
Tahun kedua pendidikan, dia mempunyai logika dalam mencapai sesuatu katakanlah nilai yang baik saa ujian. yaitu persiapan, usaha dulu yang utama baru berdoa supaya semua lancar tanpa kendala. Padahal Allah bukanlah mitra dagang. Artinya kalau kita baik, Allah memberi yang kita pinta. Ilmu Allah amat luas.
Ditahun terakhir pendidikannya, ini tahun berwarna menurutnya. Dia sekarang telah ikhlas untuk berbaur dengan teman-temannya. Satu logika yang dia paham sekarang bahwa Allah tetap membantu semua hambanya, maksudnya bukan hanya pada mereka yang memiliki persiapan yang matang. Tapi juga pada mereka yang memiliki persiapan sedikit.
Allah sayang banget sama aku, pikirnya. Padahal Allah sayang sayang kepada semua hambaNya.
Waktu terus berjalan. Hari yang dilalui masih panjang pikirnya. Namun segera dia berfikir “aku sendiri tidak bisa menjamin bahwa aku bisa hidup besok”
Astagfirullah, dia mohon ampun. Segera dia membuat daftar daftar apa yang harus dilakukan hari.


-sekian-

0 komentar on "Sayangnya ALLah"