Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Menulis adalah Kecenderunganku

Setiap orang pasti punya hati dan kecenderungan, Begitupun Aku, Aku senang menulis. Menuliskan apa yang Aku rasakan adalah bentuk hiburan bagi diriku.   Sejak sekolah dasar Aku terbiasa menuliskan perasaanku di buku harian. Itu hadiah dari Allah atas diriku. Aku memang tak pernah memenangkan kejuaraan menulis, Karena memang Aku tak pernah mengikuti kompetisi menulis.   Aku punya cita-cita untuk menerbitkan satu buku, Alhamdulillah tercapai. Saat ini cita-citaku adalah aktif menulis kembali di dunia blog dan menerbitkan buku kedua. Aku juga ingin aktif menulis di bidang yang mana aku ditugaskan, perbendaharaan negara.   Pasti tak mudah menulis kembali di blog secara konsisten. Biasanya tantangannya adalah komitmen dalam menulis dan daya kreatifitas membuat menarik tampilan blog menarik. Menulis buku itu juga asik, dapat memotivasi orang lain, sayangnya Aku belum memiliki patner untuk memvalidasi tulisanku apakah tulisan itu benar secara agama, ...

Apakah itu taqwa?

Adinda tidak pernah menuntut Srikandi untuk menjadi sepertinya Ikut memandikan nenek yang sepuh, membersihkannya, mengantar dan menjemput Ratu menggunakan sepeda motor . Akan tetapi Srikandi sering sekali menuntut Adinda menjadi seperti Srikandi Rajin belajar, menyusun daftar tugas, rajin merapihkan dan membersihkan diri. Allah itu melihat hambaNya tak sama seperti bagaimana manusia menilai manusia lainnya Mungkin tak mudah untuk meyakini, tetapi itulah faktanya. Bisa saja derajat manusia pada manusia lain ditentukan seberapa kebermanfaatan dirinya dan seberapa besar tanggungjawab yang dia miliki serta kedudukannya lebih tinggi dari oranglain. Kalau begitu, maka akan terhina orang yang bekerja sekedar mencuci piring atau mengepel lantai. Berusaha untuk melihat bagaimana Allah melihat, karena derajat seseorang tak diukur berdasarkan prestasi dunia tetapi bagaimana hatinya ikhlas beribadah kepada Allah dan benar dalam beramal. Disini kita jadi mengetahui bahwa ilmu agama is...

Menanti Pangeran

Waktu terus berjalan, hari demi hari berlalu, Empat tahun sudah sejak kelulusan sekolah kedinasan yang ia  tempuh hingga hari ini ia masih berkutat dengan hobi dan pekerjaannya.  Dahulu ketika kuliah ia fokus untuk menyelesaikan studi, meskipun terkadang ada rasa kagum dengan seseorang kemudian ia menepisnya. Hingga akhirnya ia menyadari banyak kesempatan yang ia lewati kala ia sering bertemu dengan teman-teman seangkatan. Tak mengapa, kini ia sudah menyadari bahwa diri harus bersanding dengan seorang pangeran untuk menyempurnakan separuh agamanya. maka disudut ruangan ia pun berdoa, "Yaa Rabb hanya kepadaMu Aku meminta, jauhkan diriku dari zina, maka lindungilah Aku, jaga Aku Yaa Rabb, sempurnakan agamaku Yaa Rabb, Aku bukan anak Kyai bukan pula Alim Ulama, namun Aku adalah hambaMu,  salah satu umat nabi Muhammad Yaa Rabb, mudahkan keinginanku Yaa Rabb untuk menyempurnakan agama Yaa Rabb". Air matanya menetes, menyadari bahwa kisah cintanya bukan seperti kisah Fatimah da...