Begini Rasanya Menjadi Dewasa

         Diumur 20-an tahun biasanya Kita semakin kenal banyak orang. Dimana dulunya orang yang Kita kenal baik adalah keluarga Kita sendiri, tetapi kini lingkaran itu semakin melebar. Rasa-rasanya ingin sekali punya lingkaran pertemanan yang cukup luas, disenangi banyak orang dan bermanfaat dibanyak komunitas. Waktu demi waktu berjalan, akhirnya Kita masuk ke lingkaran yang lebih luas namun kali ini yang Kita rasakan adalah perasaan tidak aman (insecure), Kita merasa keadaan Mereka lebih beruntung daripada diri Kita, celakanya Kita juga menyalahkan keadaan Kita terdahulu dan lebih buruk lagi Kita menyalahkan keluarga sendiri. Seperti saat ini, banyak Kita mendengar anak muda mengatakan bahwa orangtua Kita memiliki pola asuh yang salah terhadap diri Kita atau Kita sebut toxic parent yang menyebabkan keadaan Kita  berbeda dengan teman-temannya.

        Kita yang bersikap seperti ini secara fisik memang sudah matang tetapi tidak secara psikis. Kita tidak cukup dewasa karena masih menyalahkan keadaan, Kita merasa berhak mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang Kita telah terima. Kita hobi sekali menuntut, seperti menuntut orang lain  sesuai dengan kehendak yang Kita inginkan. Orang-orang yang belum dewasa secara psikis ini biasanya juga tidak pandai mengungkapkan apa yang dirasakan oleh Kita karena berharap orang-orang disekelilingnya memahaminya. Apalagi ketika dihadapkan suatu masalah, biasanya orang-orang seperti ini akan lari dari masalah dengan mengalihkannya ke sesuatu yang menyenangkan baginya  dan tidak berusaha untuk menyelesaikannya.

        Fitrah manusia juga merasakan kertertarikan dengan lawan jenis. Pada umumnya seseorang tertarik dengan lawan jenis karena intensitas yang tinggi bertemu secara fisik. Kita yang secara psikis belum dewasa, ketika jatuh cinta, timbul rasa harap terhadap orang yang Kita kagumi tersebut, mulai berhalusinasi, kemudian merasa bahwa orang tersebut dapat mengisi kekosongan dalam diri Kita. Kita menjadikan segala hal tentang seseorang itu adalah segalanya, perhatian yang diberikan olehnya adalah sesuatu yang luar biasa yang Kita terima, pengabaian oleh orang tersebut adalah hal yang sangat menyakitkan baginya. Fokus Kita tentang seseorang tersebut menutup banyak kebaikan-kebaikan tulus yang dicurahkan oleh orang-orang tersebut.  

        Tentang ambisi, Kita berharap segala mimpi Kita adalah yang terbaik. Ibarat bintang, ketika Kita telah gapai Ia hanyalah kumpulan gas. Memang terlihat produktif kala Kita mengejar ambisi, padahal Mereka yang selalu berada di sekeliling Kita mengharapkan mimpinya melalui Kita. Kita acuhkan harapan Mereka, Kita anggap mimpi Kita adalah milik Kita. Kita umbar segala mimpi-mimpi Kita dihadapan Mereka yang mengharapkan Kita, tak ada rasa empati yang ada menghakimi harapan Mereka. Kita tak sadar sesungguhnya mimpi-mimpi Kita adalah boomerang yang sewaktu-waktu melukai Kita.

        Sikap menuntut, bawa perasaan (baper) yang tak bertujuan, ambisi yang kosong adalah sikap yang mestinya tidak ada pada diri Kita yang sudah dewasa. Lingkaran pertemanan boleh seluas mungkin, namun tak semua menjadi pusat perhatian Kita. Ibarat lingkaran berlapis-lapis, lapisan pertama terdalam adalah keluarga Kita. Mereka adalah orang yang menerima Kita dengan begitu tulus. Bagaimanapun perlakuan Kita terhadap mereka, Mereka tetap menyayangi Kita. Sahabat adalah orang yang bukan hanya datang untuk bersenang-senang, namun ketika Kita berada diposisi terbawah sekalipun selalu ada. Mereka yang berada dilingkaran pertama berhak atas perhatian Kita, Mereka adalah orang-orang yang harus kita jaga. Orang-orang yang rentan membuat Kita kecewa, biarkan Mereka berada di luar lingkaran pertama Kita.

        Terkadang Kita pernah berbuat salah, bukan berarti kesalahan itu menetap pada diri Kita selama-lamanya. Begitupun orang lain, ketika Kita merasa terluka atas perlakuan orang lain, bukan berarti Mereka akan selalu memberikan luka kepada diri Kita. Terkadang Kita menganggap oranglain kasar, padahal Kita tidak memahami bahwa banyaknya beban yang Mereka pikul saat itu.  Sebaliknya,  Kita menemukan orang-orang yang memahami Kita, Kita memperlakukan Mereka berbeda dengan teman-teman Kita yang lainnya, perhatian Kita lebih kepada Mereka disebabkan anggapan Kita bahwa Mereka adalah yang terbaik, namun ternyata Mereka juga dapat melukai Kita. Pada akhirnya menyadari bahwa prilaku oranglain kepada diri Kita terjadi dengan alasan yang bisa bersifat tidak selamanya menetap (kondisional).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepaskan

Tak Usah Banyak Tidur

Believe in ALLAH, It's Enough.