Sayangnya ALLah
Bismillahirrahmanirrahim
Dia bukanlah anak pembantah, namun agak keras kepala, dan ingin menang sendiri. Begitulah orangtuanya menilainya.
Dia bukanlah anak pembantah, namun agak keras kepala, dan ingin menang sendiri. Begitulah orangtuanya menilainya.
Sungguh
pendiam dan pemalu anaknya. Tak banyak yang tahu apa mimpinya.
Kala
itu setelah lulus SMA, Ia belum juga berjilbab kalau keluar rumah dimalam hari.
Namun suatu hari ia katakan keteman kosnya.
“besok malem kalau keluar kos, aku mau pakai jilbab”.
Hidayah
Allah tidak sampai situ saja. Suatu malam dia bermimpi melihat awan
bertuliskan lafahz Allah. Didalam mimpi
itu dia bertanya apa artinya? Seseorang yang dia kenal menjawabnya “artinya
kalau ada adzan langsung sholat, begitu tegasnya”. Dia bangun, lalu menelepon
orangtuanya dan menangis ketakutan.
Sejak
itu dia berusaha untuk sholat awal waktu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dia
ingin sekali melanjutkan pendidikan ditempat yang “keren menurutnya”, tapi dia
tahu kemampuannya, dia ga bisa memaksa Allah. Jadi dia mengganti doa, yang
biasanya “Yaa Rabb luluskan hamba menjadi Yaa Allah beri hamba tempat untuk
melanjutkan pendidikan yang mendekatkan hamba kepadaMu”
Ku
kenal dari dirinya waktu itu adalah dia mendekat ke Allah karena takut. Dia merasa
takut jauh dari Allah, sebab dia yakin kesusahan akan menghampirinya kalau dia
berani jauh dari Allah.
Alhamdullilah
do’anya terkabul. Dia bahagia, dia merasa Allah sayang dengan dengannya. Namun
Qadarullah, karena karakternya yang pendiam,dia tidak langsung ikut organisasi
yang menambah kedekatannya pada RabbNya. Ditahun pertama pendidikan,
kedekatannya dengan Allah hanya rutinitas. Pernah suatu hari dadanya begitu
sempit, merasa lemah. Mengaji menurutnya bukan obat padahal seketika itu dibuka
olehnya AlQuran dan membaca tafsirnya yang bertuliskan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu bersedih hati karena
kamu orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.
Tahun kedua
pendidikan, dia mempunyai logika dalam mencapai sesuatu katakanlah nilai yang
baik saa ujian. yaitu persiapan, usaha dulu yang utama baru berdoa supaya semua
lancar tanpa kendala. Padahal Allah bukanlah mitra dagang. Artinya kalau kita
baik, Allah memberi yang kita pinta. Ilmu Allah amat luas.
Ditahun
terakhir pendidikannya, ini tahun berwarna menurutnya. Dia sekarang telah
ikhlas untuk berbaur dengan teman-temannya. Satu logika yang dia paham sekarang
bahwa Allah tetap membantu semua
hambanya, maksudnya bukan hanya pada mereka yang memiliki persiapan yang
matang. Tapi juga pada mereka yang memiliki persiapan sedikit.
Allah sayang banget sama aku, pikirnya. Padahal Allah sayang sayang
kepada semua hambaNya.
Waktu terus
berjalan. Hari yang dilalui masih panjang pikirnya. Namun segera dia berfikir “aku sendiri tidak bisa menjamin bahwa aku
bisa hidup besok”
Astagfirullah,
dia mohon ampun. Segera dia membuat daftar daftar apa yang harus dilakukan
hari.
-sekian-
Komentar