Jodoh Si Ayam Goreng

    Sore itu selepas shalat ashar perutku terasa sangat lapar, maka Aku merencanakan membeli makanan favoritku, ayam goreng. Ku ambil kunci motor dari gantungannya, tak lupa Aku memakai kaus kaki untuk menutupi kaki yang menurut aturan islam merupakan aurat perempuan, dan membawa dompet yang sebenarnya belum kuhitung jumlahnya. Kulanggkahkan kakiku keluar rumah menuju parkiran motor komplek rumah dinas. Motor scoopy berwarna coklat menyapaku untuk ditunggangi. Jika masa umurnya sepuluh tahun, maka sisa umurnya saat ini diperkirakan delapan setengah tahun. Kunaiki motor matik kesayanganku, ku berikan pelindung kepala berupa helem sebagai mitigasi jikalau terjadi kecelakaan dalam berkendara roda dua. Perlahan Aku mulai menstaterkan motorku, sedikit waktu yang digunakan untuk memanaskan mesin si kesayangangan, lalu perlahan Aku menancapkan gas keluar dari barisan parkiran sepeda motor, kemudian melewati jejeran rumah-rumah dinas yang warna catnya seragam, kemudian dengan perut yang masih lapar, keluar dari komplek rumah dinas menuju jalan raya.

    Jalanan di Tapaktuan sangat khas, tak ada kemacetan. Aku sedikit melajukan sepeda motor ini untuk menyegerakan bersapa diri dengan ayam goreng favoritku. Waktu yang ditempuh tidak lebih dari sepuluh menit. Sepanjang perjalanan Aku memperhatikan orang-orang yang sedang berboncengan. Aku pun mulai berfikir, Mengapa Aku tak berboncengan atau Aku yang memilih tidak untuk berboncengan, namun lamunanku itu terabaikan dengan rontaan perut yang ingin bertemu dengan kekasihnya, ayam goreng. Tibalah di tempat penjualanan ayam goreng, Aku yang sedang memperhatikan ayam goreng yang tersisa disana, terdapat tiga paha bagaian bawah, pikirku bagian paha bawa  tak masalah. Namun, belum sempat Aku membawa kekasih perutku, mereka sudah didahului oleh si Ibu Nerimo. Aku tak merasa kecewa kala itu, namun justru hal yang menggelikan yang Aku dapatkan.

    Sebelum memutuskan membeli ayam goreng yang tersisa, terdapat seorang Ibu bermata sedikit sipit dengan berpakaian lengan pendek menanyakan perihal bagian ayam goreng yang tersisa. Pegawai tersebut menawarkan bagian paha bawah, namun Ibu itu menolak karena yang Ia cari adalah bagian dada ayam goreng dengan dalih bahwa bagian paha itu memiliki daging yang sedikit. Maka sang Ibu bertanya kapan Ia bisa mendapatkan bagian dada ayam goreng, maka pegawai tersebut berkata bahwa sang Ibu mungkin perlu menunggu dikarenakan perlu waktu untuk menggorengnya. Sang Ibu pun menyetujui untuk menunggu dengan dalih bahwasannya bagian dada ayam goreng yang memiliki daging yang cukup banyak bila dibandingkan bagian paha. Kemudian seorang wanita berhijab turun dari motornya menanyakan hal yang sama mengenai ketersediaan ayam goreng. Maka pegawai tersebut melakukan hal yang sama yaitu menawarkan bagian paha bawah ayam goreng yang tersisa, tanggapan wanita berhijab itu menyetujui untuk membeli tida bagian paha bawah ayam goreng tersebut.

    Apabila dihubungkan dengan masa penantian jodoh seperti ini, memang saat ini terdapat beberapa pilihan yang dapat kita pilih, namun dari pilihan tersebut masih ada kriteria yang belum memenuhi, maka tugas kita menunggu sembari memantaskan diri atau menerima dengan senang hati apa yang telah tersedia saat ini tanpa harus menanti-nanti yang tak pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lepaskan

Tak Usah Banyak Tidur

Believe in ALLAH, It's Enough.